ASOMBANG, adalah kawasan mesteri yang menyimpan sejarah peradaban kerajaan Bacan masa
lampau. Lokasi ini ditahun 1460 m, pernah menjadi pusat Kerajaan Limau Seki
Botang Ra, dan terbilang cukup ramai dikunjungi oleh berbagai Bangsa yang
berlayar melewati jalur perdagangan rempah di antara perairan Bacan dan Obi, di
duga pada tahun 1518 m, ibu kota kerajaan ini kemudian dipindahkan ke delta
Amasing, oleh cucu dari Sultan Alauddin, yakni Putra Sultan Nurushalat, bersama
Sultan Muhammad Ali, dan kemudian membangun sebuah istana sebagai pusat
pemerintahan kerajaan Seki Botang Ra yang baru, Bernama Kadatong Susung Piring,
lokasinya berjarak +150
meter arah barat dari benteng Barnaveltd.
Ada
beberapa hal yang menyebabkan bekas kerajaan Limau Seki Botang Ra di Asombang
ini, kemudian menjadi punah tak berbekas:
- Karena perpindahan pusat kerajaan Limau Seki Botang Ra, telah mempengaruhi masyarakat adat saat itu, untuk berpindah ke delta Amasing dan meninggalkan pusat kerajaan itu, kemudian tidak terurus hingga di tumbuhi semak belukar.
- Bukti-bukti pemukiman Rakyat, mengalami kepunahan bagai ditelan zaman, disebabkan oleh bangunan tradisional masyarakat saat itu hanya dibangun menggunakan bahan apa adanya, seperti Rumah dari tiang kayu bulat berdinding gaba, beratapkan daun rumbia dan berlantaikan tanah, yang kemudian lapuk termakan usia, kecuali Kadaton Soli Muala dan Masigid Ba,abid, dua bangunan ini, dibangun dengan menggunakan susunan karang rekatan kapur, yang sempat meninggalkan puing-puing hingga pada zaman Sultan Usman Syah, tetapi kemudian mengalami kepunahan karena ulah-ulah tangan manusia.
- Kawasan Asombang akhirnya dijadikan lokasi perkebunan masyarakat Adat oleh Ahli waris keturunan raja-raja Bacan, yang berlangsung secara turun temurun hingga pada saat pembersihan lahan perkebunan, tanpa sadar telah merusak dan menghilangkan fakta-fakta sejarah.
Kawasan
Asombang yang saat ini, berada tepat berseblahan dengan benteng Barnaveltd, di
batasi telaga Inggoi dengan posisinya menghadap ke laut. Di tahun 1460 m,
diatas lokasi ini pernah berdiri sebuah bangunan Istana bernama Kadaton Soli
Muala. Istana ini dalah pusat pemerintahan Kerajaan Limau Seki Botang Ra yang
di diami oleh seorang Sultan bersama keluarganya dan para abdi Kadaton atau
Paompuang Kolano. Istana ini dibangun di tapi laut (sebelum munculnya delta
Amasing) meghadap tepat ke arah selatan, dan memiliki ciri bangunan seperti
khas melayu.
Menurut
data sejarah yang bersumber dari Ompu Abdoel samad, Pejabat Sekertaris Kerajaan
Bacan di Bawah Kuasa Nang Daulad Sri Sultan Muhammad Shodik, dan telah dikopi
dengan lurus dan benar oleh komisi Kerajaan Bacan, yang dipimpin langsung oleh
W.G. Prins Usman Syah, membawahi W.G. Ompu Muhammad Asik Kapita Laut dan W.G.
Ompu Baginda Hokoem, ang didasari dengan sumpah saat menerima jabatan pekerjaan
diatas. Kemudian sempat diabadikan oleh seorang penulis Belanda dalam bukunya, Kroniek
Van Het Rijk Batjan, Maleische Tekst. Penjelasannya dapat disimpulkan
sebagai berikut :
“Setelah
Pernikahan Sangaji Laboen Patra Samar galila dengan Boki Johar Puspa, putri
ketiga dari Jou Kolano Sultan Alauddin, penguasa Kerajaan Limau Sigara Kasiruta
ketika itu. Kemudian pasangan suami istri ini pun membujuk hati sang ayahanda
Jou Kolano Sultan Alauddin agar kiranya berkenan memindahkan Ibu Kota Kerajaan
Limau Sigara Kasiruta ke Limau Seki Botang Ra, (Babayan Bacan) dengan
menawarkan keindahan karakteristik Alam Negri Seki Botang Ra yang begitu luas
hamparannya dan dikelilingi oleh sungai-sungai nan Asri di pandang mata,
sangatlah baik untuk dijadikan pusat ibu kota kerajaan”.
Hal ini
sebagaimana tertuang dalam suatu sketsa lama, tentang bujukan sang Datuk
Samargalila dalam bahasa Adat yang sangat ironi menggugah hati “Ompu Datuk Samargalila, Bangitung de Bukit
Seki, Kuharu Kau Nanoang, ka Kutonda Silang Sambeang”. Artinya, (Empu Datuk
Samargalila berangan-angan di Bukit Seki, merayu rayu pintu hati tuk memanggil
turut yang di sembah setia).
Dalam
pandangan kesimpulan nun jauh ke depan, terkait erat dengan perkembangan
Kerajaannya di masa yang akan datang, Sang Kolano Alauddin pun membalas
Sindiran bermuatan filosofi, sebagaimana termaktub dalam balasan sair itu, “Biji Kasiruta tumbuh, badang de udang
kapota, incana seki babua, bijina dadi komalo”. Artinya, (Keturunanku akan
tumbuh, dan berkembang dimasa mendatang, disanalah kemiri berbuah, bibitnya
pasti jadi mustika). Isyarat pertanda snag Sultan sepakat memindahkan ibu kota
kerajaannya dari Limau Sigarah Kasiruta, ke Limau Seki Botang ra dan Akhirnya
terlaksana di tahun 1460 m.
Setelah
sang Sultan berpindah ke tanah Seki Botang Ra, maka untuk memenuhi kebutuhan Logistik
Kerajaan Sanagaji Patra Samargalila pun menyerahkan dua buah dusun sagu dikali
Inggoi, jika masuk dikali ini, dusun tersebut berada diposisi dari kiri saat
itu. Kemudian menyerahkan dusun kelapa di Panamboeang hingga Sawang Biaji
(Sawadai) serta ditugaskan seorang abdinya bernama Gagoel untuk penjaganya.
Sedangkan
untuk harta kupang piara Boki Johar Puspa. Sangaji Laboean Patra Samargalila
menyerahkan sembilan buah dusun sagu dan tiga dusun pinang dikawasan Sayoang
Telaga Nusa, bukit tapuk dan areal itu oleh masyarakat Hukum Adat secara turun
temurun para anak cucu keturunan oleh semua raja-raja Bacan yang dikenal dengan
sebutan Ompu Bangsa yakni keturunan Tunggulawang dan Tarafannur, Maha
Raja, Rajaloa Dll, sedangkan Ompu Anak-anak, dari keturunan
Iskandar Alam dan Kamarullah, (untuk kawasan ini tidak bisa di monopoli dan
dikuasai secara sepihak).
(Kamai ka basigaro nang babawang si
majang-majang bacakalang tangang nang sapamgarat de nyawa, pesa bukang
sakarang, po apabila dang ?)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar